NAMA : RADITYA PAHLEPI
KELAS : 1KA15
NPM : 15112866
BUDAYA MASYARAKAT
BONE
Bugis
merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama
kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu
dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga
administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga
dikategorikan sebagai orang Bugis.[2] Berdasarkan sensus penduduk Indonesia
tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini
orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.
Sejarah
Awal Mula masyarakat Bone
Bugis
adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke
Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat
di Pammana,Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La
Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan
Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We
Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra
terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading
Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya
sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga
dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi
lain di Sulawesiseperti Buton.
Perkembangan
Dalam
perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan.
Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan,bahasa, aksara, dan
pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone,
Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan
membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah
dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa
Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap,Pinrang, Barru. Daerah
peralihan antara Bugis dengan Makassar adalahBulukumba, Sinjai, Maros,
Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten
Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama
kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian
Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)
Masa Kerajaan Bone
Di
daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul
seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil
melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan
mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.
Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade'
pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa
tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi
arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya
yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari
adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa
Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas
wilayahnya ke utara, selatan dan barat
Mata Pencaharian
Karena
masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka
kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata
pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu
masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang
pendidikan.
Serdadu Bayaran
Selain
sebagai perompak, karena jiwa merantau dan loyalitasnya terhadap persahabatan
orang-orang Bugis terkenal sebagai serdadu bayaran. Orang-orang Bugis sebelum
konflik terbuka dengan Belanda mereka salah satu serdadu Belanda yang setia.
Mereka banyak membantu Belanda, yakni saat pengejaran Trunojoyo diJawa Timur,
penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukan Paderi, serta membantu
orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya di Thailand.[5] Orang-orang Bugis
juga terlibat dalam perebutan kekuasaan dan menjadi serdadu bayaranKesultanan
Johor, ketika terjadi perebutan kekuasaan melawan para pengelana Minangkabau
pimpinan Raja Kecil.
Bugis Perantauan
Kepiawaian
suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan
mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand,Australia, Madagaskar
dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town,Afrika Selatan terdapat
sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat
tanah asal nenek moyang mereka.
Penyebab Merantau
Konflik
antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada
abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerahSulawesi Selatan.
Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah
pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan
kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui
kemerdekaan.
Bugis di Kalimantan
Timur
Sebagian
orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh
terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan
perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau
lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan
yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama).
Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowaitu diterima dengan baik
oleh Sultan Kutai.
Atas
kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi
sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha
Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa
orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama
di dalam menghadapi musuh.
Semua
rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili
seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena
daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu
dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
Bugis di Sumatera dan
Semenanjung Malaysia
Setelah
dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau
Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang
Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di
tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik
kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang
merupakan keturunan Makassar.
Adapun
tokoh-tokoh yang berasal dari bugus/ bone ,bisa dilihat dari gambar berikut :
Raja
Ali Haji, Jusuf Kalla, BJ Habibie, Najib Tun Razak, Andi Mallarangeng, Sophan
Sophiaan (Alm)
Kesimpulan
: Bahwa masyarakat bugis merupakan masyarakat yang masih percaya akan leluhur namun tidak lepas dari norma yang ada.






