Minggu, 23 Maret 2014

TUGAS 4 - KEPEMIMPINAN



TUGAS 4
JUDUL : KEPEMIMPNAN
1.      Teori dan arti penting kepemimpinan.
Arti penting kepemimpinan adalah suatu sikap yang perlu dimiliki oleh setiap orang agar bisa memimpin diri sendiri untuk managemen hidup dan orang lain, di tengah-tengah perjalanan hidup didunia ini tidak jarang muncul saat-saat kritis, saat-saat yang menentukan arah zamannya. Saat-saat itu tercita oleh timbulnya masalah-masalah penting yang menurut sikap yang tegas dan cara penggarapan yang cepat leagi tepat. Masalah yang menyangkut kehidupan keluarga,masyarakat,negara dan dunia. Dalam keadaan-keadaan keritis itu diminta kehadiran tokoh-tokoh pemimpin. Mereka adalah manusia-manusia yang tahu apa yang harus dikerjakan pada saat-saat seperti ini. Mereka adalah orang yang memiliki kecakapan dan kemampuan untuk mempengaruhi dan mengajak, mengumpulkan dan menggerakan orang-orang lain untuk menangani persoalan-persoalan yang ada pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang mampu membina orang lain membentuk suatu kesatuan kerja dan bersama-sama mereka rela bekerja, bahkan berkorban kadang-kadang, demi beresnya persoalan itu. Mereka inilah orang-orang yang disibut pemimpin.
·         Teori Sifat

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan  bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
      pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
- sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif;
- kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.  
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.

·         Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
      konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri  ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
      berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

·         Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
      Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas, Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan, Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan, Norma yang dianut kelompok, Rentang kendali, Ancaman dari luar organisasi, Tingkat stress, Iklim yang terdapat dalam organisasi.

2.      Tipologi kepemimpinan.
Sejak dahulu kepemimpinan menjadi salah satu kajian yang menarik untuk di telaah secara mendalam, sebab arah peradaban suatu bangsa tak bisa lepas dari sebuah gaya kepemimpinan seseorang.
Namun tentu saja setiap proporsi kepemimpinan dari seorang pemimpin senantiasa berbeda-beda sebab itu semua bergantung pada bangunan epistemologis dan konstruk ideologisnya masing-masing.
Ada beberapa tipologi kepemimpinan yang sering kali kita temukan dalam gaya seorang pemimpin :
·         Gaya Otoriter/Totaliter yaitu gaya kepemimpinan yang selalu memaksakan kehendaknya pada setiap orang meskipun dengan jalan kekerasan, namun kebijakannya berlaku secara distributif dan tanpa kompromi. Gaya ini secara epistemologis cenderung beraliran Macchiavellian, Hobbesian. 

·         Gaya Demokratis yaitu gaya kepemimpinan yang cenderung selalu menggunakan musyawarah, namun gaya ini sangat lemah mengambil sikap dalam setiap tindakannya dan terkesan pragmatik. Gaya ini secara epistemologis cenderung beraliran liberal-moderat.

·         Gaya para Nabi yaitu gaya kepemimpinan yang kharismatik dengan menggunakan jalan kemanusiaan, dalam arti lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, dibanding dengan kepentingan pragmatis. Gaya ini cenderung mengikuti aliran humanistik-teologis.
Dari beberapa tipologi kepemimpinan di atas, maka kita dapat memahami bangunan epistemologis dan konstruk ideologisnya melalui gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin.
Dari hal tersebut di atas, maka kita dapat memahami pula bahwa tidak saya maupun anda, setiap pemimpin dapat kita ketahui bangunan ideologis maupun epistemologis melalui gaya kepemimpinan yang implementasikan.

3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan.
·         Faktor Faktor Dalam Kepemimpinan :
o   Kepribadian, pengalaman masa lampau, dan harapan dari pemimpin yang bersangkutan.
o   Harapan dan prilaku atasan.
o   Karakteristik, harapan dan prilaku bawaan.
o   Persyaratan tugas.
o   Kultur dan kebijakan organisasi.


o   1. Pemimpin 
Dalam kaitannya dengan Kepemimpinan, Pemimpin memang merupakan faktor esensial dari Proses Kepemimpinan itu sendiri. Serta Pemimpin itu memang harus mengerti apa yang harus dia tahu dan apa yang harus dia perbuat, atau istilah lainnya The Right Man on The Right Place.

o   2. Pengikut (Followers)
Adalah salah satu faktor kepemimpinan yang membuat Faktor pertama itu ada. Karena tanpa adanya Pengikut, otomatis Pemimpin pun tak ada. Oleh karena itu Faktor Kepemimpinan dalam Pengikut ini lebih cenderung pengertian akan apa saja yang Followers inginkan sehingga sebuah satuan fungsi manajemen bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Serta ada pula yang mengatakan kalau berbeda Pemimpin maka berbeda pula gaya kepemimpinannya. Oleh karena itu Pengikut disini memang harus menyesuaikannya dengan cepat.

o   3. Komunikasi
Salah satu hal yang menjembatani antara Pemimpin dan Pengikut adalah proses Komunikasi itu sendiri. Dengan adanya komunikasi. Hubungan kerja antara dua belah pihak baik atasan maupun bawahan dapat sinergis dan berjalan sesuai dengan apa yang telah dirancangkan sebelumnya.

o   4. Situasi
Dalam sebuah situasi tertentu, terkadang kita diharusnkan untuk bertindak secara cepat dan refleks untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu kondusifitas situasi antara Atasan dan Bawahan memang harus saling dikuatkan agara selalu terjadi kondisi situasi yang nyaman dan kondusif.

4.      Implikasi manajerial kepemimpinan dalam organisasi.
Dalam implikasi manajerial tentang kepemimpinan ini saya mengambil contoh kasus dalam sebuah organisasi EO(Event Organizer) dalam Event Organizer sangat sekali dibutuhkan sikap kepemimpinan dari masing-masing orang yang dimana sikap ini harus direalisasikan dalam suatu kergiatan kerja demi mencapai keinginan yang telah dibuat, kepemimpinan dalam organisasi ini merupakan hal yang sangat mendasar dimana sikap kepemimpinan ini yang utama harus dimiliki seorang pemimpin dalam Event Organizer ini contoh dalam sebuah pelaksanaan acara seorang pemimpin dan bawahan harus memiliki sikap kepemimpinan untuk emnjalankan suatu acara hingga acara itu berhasil.
Referensi:
Buku : KEPEMIMPINAN
A.M. Menggunardjana,SJ , Kepemimpinan, Kanisus 2002
Buku : PEMIMPIN ADILUHUNG GENEALOGI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER
Berliana Kartakusuma , Pemimpin Adhiluhung Genealogi Kepemimpinan Kontemporer, Mizan Publika 2006
Buku : SUKSES SEBAGAI MANAJER PROFESIONAL TANPA GELAR MM ATAU MBA
Dr.Achmad S.Ruky , Sukses Sebagai Manajer Profesional Tanpa Gelar MM Atau MBA, Gramedia 2008
http://sbm.binus.ac.id/2013/09/11/tipologi-kepemimpinan-unggul-bagian-ke-1/

0 komentar:

Posting Komentar